Skip to main content

MUHASABAH | Lebih Baik Mana, Duniawi atau Agama (Akherat) ?

MUHASABAH | Lebih Baik Mana, Duniawi atau Agama (Akherat) ?
Sumber gambar : Embah Google 
"Kemuliaan di Dunia diperoleh dengan Harta, dan kemuliaan Akhirat diperoleh dengan 'Ilmu dan Amal"
(Nashoihul 'Ibad)

Pekerjaan adalah 'Ibadah, dengan bekerja manusia menjadi mulia dimata manusia lainnya. Namun banyak manusia bekerja dengan tujuan sukses dengan harta, lupa dengan Esensinya. Karena bekerja bukan hanya sekedar mencari harta (uang) jika hanya bekerja saja tidak didasari niat dan tujuan yang baik dan benar serta disandarkan kepada Allah. Hanya akan sia-sia bagaikan bualan belaka.

"Kalau hidup hanya sekedar hidup, Babi di hutan juga (bisa) hidup. Kalau bekerja hanya sekedar bekerja, kera juga (bisa) Bekerja." (Dawuh Buya Hamka) 

Kita lupa terhadap Esensi dalam bekerja sampai lupa bekerja Sebagai 'Ibadah kepada-Nya karena rasa syukur kepada-Nya. Mewujudkan Esensi dalam bekerja memang selalu menemui kendala yang dihadapi untuk mewujudkan nya, namun bukan berarti menjadi melupakan Esensinya dalam 'Ibadah bekerja.

Tanamkan Esensi dalam 'Ibadah bekerja agar bekerja menjadi lebih ber-arti (bermakna) dan tidaklah sia-sia belaka. Bekerja yang tidak ber-arti adalah bekerja yang memiliki tujuan kesuksesan duniawi saja kepopuleran, agar banyak yang memujinya bahkan memujanya. Mereka lah yang melupakan kepada yang memberikan kesuksesan kepadanya, Sampai-sampai merasa ini berkat usahanya sendiri tanpa ada keterlibatan Allah. Lalu wajar saja yang kebanyakan mereka itu hatinya menjadi keras dan hidup nya tak pernah tentrem. Tapi bagi mereka yang meraih kesuksesan melibatkan Sang Pemberi kehidupan mereka sangat tentrem, Hati mereka pun lembut. Selalu bersyukur kepada Sang Pemberi dengan bershodaqoh, beramal Jariyah, membantu tetangga mereka yang dalam kesulitan dan orang yang mereka temui, dan lain-lain. Mereka itulah yang bekerja nya selalu menerapkan Esensinya, tapi sangat jarang sekali yang bisa, sangat jarang sekali yang mampu. Namun tetaplah berusaha sampai batasan diri. Janganlah menyerah terlebih putus asa.

"Santri setelah tamat harus memprioritaskan memperjuangkan 'Ilmu, sebab jika mengutamakan bekerja maka ia malah kesulitan dalam mencari Rizqi."
(KH. Idris Marzuki)

Khusus kepada santri kalau sudah lulus dari pondok pesantren sesampainya dirumah harus memprioritaskan dalam memperjuangkan 'Ilmu yang didapat dari pondokan, terutama 'Ilmu Agama, itu harus. Bukan malah memprioritaskan bekerja dan mencari Duit. Juga umum nya kepada orang-orang yang telah belajar 'Ilmu Agama dari para gurunya. Karena tugas pokok seorang santri yang telah lulus itu mengajar, mengajak kepada Agama Allah bukan juga kepada prioritas bekerja mencari duit. Tetap semangat pada tujuan utama seorang santri jangan merasa lelah meski lelah itu akan terasa. Jangan berputus Asa karena putus Asa bukan sifatnya santri atau orang Mu'min.

Berjuang memprioritaskan Agama Allah banyak caranya banyak pula jalannya, bukan hanya sebagai Da'i saja atau sebagai penceramah saja, bisa dengan dalam pergaulan lalu mengajak kebaikan karena Allah, mendirikan majelis Sholawat, mengajak Sahabat-sahabat agar selalu berpegang kepada tali-tali Allah bahkan yang sedikit ekstrim adalah bergaul dengan para peminum (pemabok) dan kawan-kawannya lalu mengajak kepada kebaikan bahkan hingga ia bertobat.

"Jangan takut jika tidak bisa bekerja, Takut lah jika hanya bisa bekerja."
(KH. Ma'roef Zainuddin) 

Semua itu dilakukan dengan cara yang lembut, baik dan benar, dengan perkataan yang baik serta lemah lembut (Mau'idzhotul Hasanah) serta dengan cara Bil Hikmah yaitu dengan perilaku. Dan sebisa mungkin menjauhkan dengan cara peperangan karena zaman now bukanlah zaman dimana Rasulullah memperjuangkan Agama ketika dahulu yang memang harus berperang karena kedua cara di atas tidak diterima dan ditentang oleh kaum kafir Quraisy.

Berjuang lah dengan cara damai, Islam ini ada dengan Rahmatan Lil'alamiin rahmat bagi seluruh Alam (BACA). Jadi tak perlu adanya peperangan sesama saudara sendiri terutama di Nusantara kita. Sejak Islam datang yang dibawa oleh para kekasih Allah Wali Songo. Datang dengan damai dan membawa kedamaian bagi seluruh makhluk di Nusantara Raya ini, serta tidak dengan mendiskriminasikan siapapun. Ingat dengan kedamaian.

Lalu bagaimana mereka yang bukan santri, berjuangnya dengan apa dan bagaimana?
Bagi mereka yang bukan santri pun bisa berjuang di Agama Allah. Dengan cara memperbaiki diri sendiri dengan memfokuskan tujuan hidupnya karena Allah, kepada Allah, bersama Allah, menuju kepada Allah. Atau berjuang dengan hartanya dengan memberikan sebagian Rizqi nya kepada Masjid-masjid, Pesantren-pesantren, bershodaqoh, memberikan kepada yang membutuhkan, tetap mendirikan Sholat 5 waktu baik sendiri maupun berjama'ah, mengaji Al-Qur'an dirumah-rumah mereka, mengaji di Masji-masjid, di Majelis-majelis dan banyak lagi.

Tetap lah ber pegangan terhadap Agama Allah, Tali-tali Allah (Para 'Ulama), serta selalu rajin mendawamkan Kalimat Istighfar setiap waktu.

"Orang 'Alim, ber-'Ilmu. Kalau orientasi nya ke dunia, akan gagal jadi orang 'Alim." Jadi hidupnya dikejar-kejar atau hidupnya ditunggangi duniawian saja, Sampai-sampai tidak sempat menyiapkan untuk Akhiratnya. (Abuya Kafabihi Mahrus)


Kholili
Jur-Bar, 2 Mei 2018

POST

SINAU | Rahmatan Lil'alamiin

Kalimat Rahmatan Lil'alamiin diwahyukan oleh Allah melalui Malaikat Jibril AS.

UNTAIAN TAFAKKUR | Move On

Dosa masa lalu, manusia tidak mampu move on salah satunya adalah karena dosa masa lalu

Nikmat itu Diantaranya | Menolong Kepada Yang Membutuhkan Pertolongan

Memberikan Bantuan terhadap orang yang sedang membutuhkan pertolongan adalah nikmat yang begitu indah dari Allah,

UNTAIAN TAFAKKUR | Orang Ber-Iman Tidak Berputus Asa

اَالْفَاجِرُ الرَّجِيْ لِرَحْمَةِاللّهِ تَعَلیٰ اَقْرَبُ مِنْهَا مِنَ الْعَابِدِ  الْمُقْنِ  (رواه الشيرزی إبن مسعود :مختارلأحاديث)

IMAJINASI | Pemisah Antara Akal dengan Nafsu

Dalam sebuah untaian Sholawat mengatakan :

وَالْفِكْرُ بَيْنَ عَقْلٍ وَنَفْسٍ # حَالَةَ شَقِيٍّ وَسَعِيْدِ