Skip to main content

MUHASABAH | Prasangka (Husnudhzon / Su'udzhon)

Illustrasi by Hipwee

Allah selalu memperhatikan Prasangka hamba-hambaNya yang mana yang lebih baik.
Hamba yang bagaimana?
Apakah Prasangka hamba yang Ta'at 'Ibadah atau yang Jarang Beribadah?

Dalam Hadits Qudsi Allah berkata :

"Aku sebagaimana prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Aku bersamanya jika ia berdoa kepada-Ku." [HR.Turmudzi]

Prasangka yang bagaimana yang dimaksudkan Allah? Prasangka Hamba kepada Allah itu bagaimana? Caranya?

Prasangka adalah sebuah cara manusia menyampaikan pandangan tentang seseorang dengan gerak-gerik perilakunya dan atas kebaikan juga keburukan seseorang. Entah hanya dalam diam (hati) ataupun dengan menyampaikannya kepada orang lain. Dengan berbagai macam maksud dan tujuannya, ada yang demi kebaikan, ada yang demi kepentingan dirinya sendiri dengan maksud menjatuhkan martabat seseorang, ada yang dengan kebodohannya, ada yang menutupi dengan kebijaksanaannya demi kepentingan bersama. Dan berbagai macam cara dan tujuan lainnya.

Yang jelas-jelas itu Prasangka dibagi menjadi dua, Husnudhzon (Prasangka yang baik) dan Su'udzhon (Prasangka yang buruk). Bagaimana memandang Husnudhzon itu dengan pengertian yang baik dan sesuai kadarnya serta sesuai dengan Tuntunan Allah Ta'alaa?

Husnudhzon itu Prasangkaan yang baik, baik menurut siapa?
Baik Menurut Allah, Baik menurut kadar Syari'at, Makrifat serta Hakikat. Prasangka Baik itu ada dua macam : Yang pertama, prasangka yang baik terhadap perilaku seseorang, kejadian, atau tingkah apapun yang ada dihadapan diri (mata) karena yang terlihat adalah baik secara Syari'at. Dan yang kedua, prasangka yang baik tetapi yang terlihat adalah buruk, baik berupa perilaku seseorang, terhadap kejadian, dan banyak lagi yang terlihat oleh pandangan mata. Dan yang seperti ini harus menggunakan kacamata Hakikat. Karena bagi Allah sesuatu yang menimpa manusia itu buruk belum tentu buruk bagi Allah dan sebaliknya. Lalu bagaimana menurut pandangan kacamata Makrifat? Menurut pengertian Makrifat itu bisa didefinisikan secara sederhana Moderat (Tengah-tengah), karena Makrifat secara sederhana dapat dijelaskan yaitu pandangan Allah Ta'alaa yang diberikan kepada manusia-manusia Pilihan-Nya terhadap segala kejadian atau kepada manusia yang diberikan Hidayah oleh Allah Ta'alaa. Sehingga ia dapat melihat Yang baik itu sebenarnya buruk, yang buruk itu sebenarnya baik, dan yang baik itu itu benar-benar baik serta yang buruk benar buruk adanya. Sesuai dengan pandangan Allah.

Kemudian Su'udzhon itu kebalikannya Husnudhzon yaitu prasangka yang buruk terhadap seseorang atas perilakunya, ucapannya dan atas kejadian yang buruk yang menimpa seseorang itu. Dan juga atas segala kejadian, tingkah laku serta atau apapun yang terlihat oleh pandangannya. Bahkan yang sudah jelas terlihat baik pun tetap disangkakan buruk. Bisa di contohkan kurang lebih seperti ini Kita-kira, didalam hati seseorang yang sedang berlaku bersu'udzhon "gara-gara dia gua jadi begini.." karena sesuatu yang menimpanya dirasakan tidak ada kenikmatan atau kebahagiaan dalam dirinya, sehingga ia seperti mencari kambing hitam atau mencari kesalahan orang lain atas suatu keburukan yang menimpanya.

"Apa yang mengenai diri kalian, tidak lain adalah akibat dari perbuatan tangan kalian sendiri.." 
(Dawuh GusDur / QS. As-Syuraa : 30)

Dari itu tidak sepatutnya sebagai orang yang beriman berperilaku Su'udzhon terhadap apapun terlebih terhadap Allah juga dengan mencari-cari kesalahan orang lain. Karena itu Bukan ciri perbuatan yang Mulia sebagai orang yang beriman, dan terlebih berilmu. Disini perlunya manusia agar selalu bermuhasabah terhadap apapun yang menimpa diri masing-masing, baik itu berupa kabaikan, kebahagiaan, keberkahan atau pun keburukan.

JAUHILAH PRASANGKA 

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain.” (Al-Hujurat : 12)

Sebisa mungkin, semampunya mungkin atau sekuat mungkin Jauhilah dalam berprasangka, Baik ataupun Buruk. Biasa saja, karena segala sesuatunya adalah ketentuan Allah (Takdir Allah). Apabila tidak mampu menahan agar tidak berprasangka, berusahalah agar pada prasangka yang baik-baik, meskipun dalam keburukan.

“Jauhilah prasangka, karena prasangka itu adalah perkataan yang paling dusta.” (HR. Bukhari-Muslim).

Jangan lah berkata apapun, kepada siapapun, dengan siapapun untuk berkata terhadap prasangka yang ada didalam hati maupun fikiran. Karena akan menimbulkan serta menyebabkan hal-hal yang tidak diinginkan.

“Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari hadits no. 6064 dan Muslim hadits no. 2563)

Selalu latih lah diri dalam menjaga prasangka, baik dalam Hati maupun dalam Fikiran. Dan selalu latih lah diri dalam mendawamkan "Istighfar" ketika terlintas prasangka buruk terhadap sesuatu, agar semoga Allah mengembalikannya pada kebaikan.

“Maka yang menjadi kewajiban seorang Muslim, baik lelaki atau perempuan, wajib untuk menjauhi prasangka buruk. Kecuali ada sebab-sebab yang jelas (yang menunjukkan keburukan tersebut). Jika tidak ada, maka wajib meninggalkan prasangka buruk. Tidak boleh berprasangka buruk kepada istri, kepada suami, kepada anak, kepada saudara suami, kepada ayahnya atau kepada saudara Muslim yang lain. Dan wajib berprasangka baik kepada Allah, serta kepada sesama saudara dan saudari semuslim. Kecuali jika ada sebab-sebab yang jelas yang membuktikan tuduhannya. Jika tidak ada, maka hukum asalanya adalah bara’ah (tidak ada tuntutan) dan salamah (tidak memiliki kesalahan).”(Fatawa Nurun ‘alad Darbi, 21/147-148)


Kholili
Jur-Bar, 13 Mei 2018

POST

IMAJINASI | Pemisah Antara Akal dengan Nafsu

Dalam sebuah untaian Sholawat mengatakan :

وَالْفِكْرُ بَيْنَ عَقْلٍ وَنَفْسٍ # حَالَةَ شَقِيٍّ وَسَعِيْدِ

SINAU | Rahmatan Lil'alamiin

Kalimat Rahmatan Lil'alamiin diwahyukan oleh Allah melalui Malaikat Jibril AS.

UNTAIAN TAFAKKUR | Move On

Dosa masa lalu, manusia tidak mampu move on salah satunya adalah karena dosa masa lalu

Nikmat itu Diantaranya | Menolong Kepada Yang Membutuhkan Pertolongan

Memberikan Bantuan terhadap orang yang sedang membutuhkan pertolongan adalah nikmat yang begitu indah dari Allah,

UNTAIAN TAFAKKUR | Orang Ber-Iman Tidak Berputus Asa

اَالْفَاجِرُ الرَّجِيْ لِرَحْمَةِاللّهِ تَعَلیٰ اَقْرَبُ مِنْهَا مِنَ الْعَابِدِ  الْمُقْنِ  (رواه الشيرزی إبن مسعود :مختارلأحاديث)